Make your own free website on Tripod.com

MENGAPA HARUS SELALU BERGANTUNG

KEPADA ORANG LAIN?

 

 
Mungkin semua dari diri kita pernah takut melakukan sesuatu, misal dari hal-hal yang sederhana, pergi ke toko fotocopy, kita selalu minta tolong ditemani kawan, pergi ke market sangat tidak enak kalau tidak ada teman di sebelah. Nonton ke bioskop harus berteman, pergi menemui dekan harus berteman.

 

Detik demi detik hidup kita selalu bergantung kepada orang lain. Ketergantungan memang sesuatu yang alami di dalam diri manusia, ia ada bersama lahirnya manusia ke dunia. Sang bayi lapar ia menangis dan memerlukan ibu untuk memenuhi kebutuhannya. Ia lapar ia membutuhkan ibu, saat akan pipis ia kembali menangis, bayi selalu tergantung kepada ibu. Demikian sampai sang  bayi mulai tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dan dewasa selalu bergantung kepada ibu atau orang lain di sekelilingnya.

 

Mengapa kita harus selalu meminta tolong orang lain padahal diri sendiri mampu melakukannya. Ada yang berpendapat orang yang demikian adalah tipe orang besar, tipe bos, tipe atasan. Pendapat tersebut tidak benar, itu hanyalah pernyataan untuk membela diri dan mau menang sendiri, sehingga lama-lama menjadi budaya di dalam masyarakat.

 

Perhatikan, dan iseng-iseng catat, dalam sehari berapa kali kita meminta tolong kepada orang lain, entah itu teman, kakak, orang tua, adik, atau siapa saja yang ada di sekeliling kita. Tatkala pintu terbuka, kita menyuruh adik, “tolong dik, tutupkan pintu itu, nanti abu masuk”. Saat pulpen kita terjatuh lalu kita berkata, “Friend, tolong ambilkan pulpenku di bawah bangkumu”.  Mungkin saat hendak tidurpun kita harus menyuruh orang lain? Tolong tidurkan mataku”.

 

Sekali saya sempat terenyuh dengan perilaku dosen yang mengajar mata kuliah statistik di Pascasarjana. Begitu masuk kelas, papan tulis penuh dengan coretan-coretan dosen yang sebelumnya masuk ke kelas kami. Tanpa sungkan ia mengambil penghapus dan menghapus papan tulis sampai bersih, begitu juga pada saat kuliah berlangsung ia tidak pernah menyuruh mahasiswa untuk menghapus tulisannya di papan. Saat kelas usia, ia kembali menghapus untaian tinta yang ada ada di depan kelas, sehingga dosen berikutnya tidak bersusah payah untuk membersihkannya.

 

Lalu teman saya berkata, wah nih Bapak rajin benar, kan ada mahasiswanya?. Saya justru berpikir lain, ia bukan sekedar rajin, tapi ia betul-betul bertanggung jawab terhadap tugasnya. Ia digaji untuk mengajar, tetapi tidak cukup sampai di situ, ia juga harus melakukan hal-hal kecil yang selama ini diabaikan orang. Ia bertanggung jawab untuk membersihkan apa yang telah diperbuatnya, bukan orang lain yang harus membersihkannya.

 

Jangan jadikan kebiasaan suka menyuruh orang lain, apalagi hal-hal kecil yang seharusnya dapat dilakukan sendiri. Orang lain bisa menjadi tersinggung walau tidak diucapkan melalui mulutnya. Hubungan yang semula akrab bisa menjadi renggang karena kita seolah-olah menjadi bos yang suka memerintah orang.

 

Saya memiliki pengalaman buruk tentang ketergantungan kepada orang lain. Waktu kos saat masa perkuliahan, saya selalu kehabisan uang karena orang tua memberikan uang bulanan sangat pas-pasan. Akibatnya saya selalu membangunkan teman sekamar saat ia masih terlelap tidur pagi. Saya harus berangkat kuliah dan memerlukan ongkos kendaraan, tetapi uang benar-benar habis, lalu ia terbangun dan memberikan lembaran uang ribuan sebagai pinjaman. Hal ini selalu terjadi demikian, akhirnya saya menjadi orang yang boros, tidak takut kehabisan uang, kalau uang habis tinggal pinjam saja kepada teman tersebut. Tetapi akhirnya saya sadar, dengan perilaku yang demikian kasihan teman tersebut tidak bisa segera membeli hal-hal yang diinginkannya karena uangnya selalu saya pinjam.

 

Pernah sekali saat saya membuka usaha di depan kampus, kebetulan pagi itu saya harus buru-buru pergi karena ada urusan. Karena tergesa-gesa akhirnya tinta di tangan berceceran di lantai, lalu dengan enteng saya perintah teman, tolong bersihkan tinta itu. Lalu ia mengambil kain lap dan membersihkan tetesan tinta tanpa berkata apa-apa. Saat itu  saya tersadar, wah kawan ini pasti tersinggung dengan ulah saya. Sejak kejadian itu rekan tersebut tidak mau lagi datang ke tempat usaha itu, dengan alasan sibuk dengan kuliah. Akhirnya bisnis saya kekurangan tenaga untuk operasional usaha.

 

Perilaku ketergantungan ini sama seperti candu, jik perilaku ini terus dilakukan maka akan terbawa sampai ke masa dewasa. Usia kedewasaan penuh dengan tantangan, dan tantangan itu lebih banyak harus kita selesaikan sendiri, karena orang lain di sekeliling kita memiliki kesibukan dan kepentingan yang mungkin sama dengan diri kita.

 

Seorang yang telah berumah tangga, pada awalnya sering kehabisan uang, lalu karena selalu tergantung kepada orang lain, maka ia mencoba meminjam kepada rekannya, tapi ia tidak berhasil karena rekannya juga memiliki kepentingan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

 

Hal paling sering ditemui di lingkungan mahasiswa adalah meminta belas kasihan kepada orang lain pada saat ujian berlangsung, melihat ke kiri, ke kanan, ke belakang, ke depan demi untuk memperoleh jawaban dari rekan-rekan.  Sekali lagi ini adalah ketergantungan, apatah jadinya jika seorang intelektual selalu tergantung? Bukankah intelektual seharusnya masyarakat yang bergantung kepadanya?

 

 

 

F Kembali ke Menu Utama

 

 

 

 

 

Created by: Azuar Juliandi@Januari  2005