Make your own free website on Tripod.com

KUJADIKAN KULI IBU DAN AYAH (KULIAH)

 

20 Agustus 2004. Kulangkahkan kaki dari kampung sana..membawa sekantong uang untuk kuliah..ah...aku bebas dari aturan orang tua yang membelenggu dan memusingkan..kini uangku banyak... aku beli jeans bermerek & sepatu mengkilat di matahari, , nonton film di empire, traktir pacar makan kfc, beli rokok sampoerna a-mild, camping akhir pekan ke bukit lawang, dan...ke diskotik jingkrak-jingkrak  sampai pagi

 

29 September 2004. Belum sebulan aku kehabisan uang..lalu pulang kampung..aku datang... mak..pak...uang..uang..uang...habis...tambah..sekarang...mereka beri dengan senyuman walaupun mungkin kehabisan beras dan belanja mungkin juga menghutang ke tetangga...lalu aku kembali ke Medan....tertawa...berkumpul dengan teman-teman ..menikmati indahnya kehidupan kota..perkara masuk kuliah..ah...belakangan..... ...nggak masuk juga ada yang tamat dan wisuda....beli buku ? ah..ngapain...percuma...di perpustakaan banyak....kalo pacaran oke...

 

5 Januari 2005. Suatu malam aku bermimpi...dan terdengar suara di dalam mimpi itu.. “Hai....diri  yang hebat....kau adalah raja dan mamak bapakmu adalah budak ..kaulah boss dan ayah ibumu adalah kuli kasar..kau pergi kuliah, bergaya selebritis, pakaian mewah....beli rokok, pacaran, jalan-jalan ke mall ....ketawa cekakakan di pinggir jalan..uang dihamburkan beli jeans bermerek...?”  aku tersentak tetapi tertawa dan kembali tidur nyenyak  sampai jam 8 pagi”

 

3 September 2014. Di Pelabuhan Belawan....jam 12 siang...aku duduk kelelahan di tengah teriknya mentari setelah selesai mengangkat barang bawaan penumpang kapal sekedar untuk makan hari ini...kuambil handuk di leher, dan menatap laut yang berombak tenang... ”Tiga tahun sudah aku diwisuda...kini aku bekerja di sini sebagai kuli kasar...mamak bapakku sudah mati  satu tahun lalu...stress memikirkan aku yang sarjana tapi pengangguran...Melamar kerja ke sana ke mari ditolak dan dimaki orang...komputer nggak bisa, bahasa inggris...jeblok...IP..nasakom...mau dagang..modal nggak ada...mau ikut partai politik ngomong nggak bisa...mau kawin...tak ada wanita yang selera ”. Lalu kuambil rokok Compil...dan kuhembuskan asapnya perlahan ke udara.. Di hembusan terakhir aku terpana...tertulis di sana....“Hai....diri  yang hebat....bukankah kau adalah raja dan mamak bapakmu adalah budak ..kaulah boss dan ayah ibumu adalah kuli kasar..kau pergi kuliah, bergaya selebritis, pakaian mewah....beli rokok, pacaran, jalan-jalan ke mall ....ketawa cekakakan di pinggir jalan..uang dihamburkan beli jeans bermerek...mengapa kau di sini, wahai penghisap darah orang tua ?”

 

-----------------0-----------------

 

Ilustrasi di atas memang terlalu kejam di awal dan diakhirnya, tapi begitulah mungkin kenyataan kita. Memang asyik kuliah, dikatain orang hebat “intelektual”, pakaian bebas bisa gaya lagi nggak seperti di SMU, demonstrasi rame-rame kayak di teve, dan yang penting gaul bo’. Pokoknya kuliah menjanjikan banyak hal, terutama kebebasan, bebas dari aturan orang tua yang selalu buat pusing kepala.

 

Ketika kita langkahkan kaki memasuki gerbang kampus, tidakkah ada terbersit di dalam hati “untuk apa sih aku kuliah ?”. Sungguh...kuliah akan membuang begitu banyak uang dalam jumlah tidak sedikit. Bukan hitungan ratus ribu namun juta pasti akan dikeluarkan dari saku.

 

Sadarkan kita, uang jutaan itu terkuras dari keringat orang tua ? Syukur saja orang tua kita adalah seorang pejabat atau pengusaha sukses gampang meraup uang dalam sekejap, tanpa perlu memeras keringat membanting tulang.  Lalu bagaimana jika mereka adalah seorang petani, mencangkul dari pagi hingga sore, atau seorang guru yang gajinya tak seberapa tapi harus memaksakan diri dan berupaya agar para siswanya tahu tentang yang diajarkannya. Atau mungkin seorang pedagang, menjajakan dagangannya di tengah-tengah keramaian dan di tengah terik mentari.

 

Apapun orang tua kita, kaya atau miskin, pengusaha atau petani, semuanya pasti mati-matian bekerja untuk bisa memperoleh uang mengkuliahkan anak-anaknya dengan harapan esok hari sang anak akan jadi orang besar yang berilmu dan hidup bahagia.

 

Sekarang mari kita pakai sedikit akal, memikirkan, aku menghamburkan uang, maka aku menjadikan orang tua sebagai budak, sebagai kuli, dan aku adalah majikan dan boss pengatur mereka yang setiap saat menyuruh mereka untuk bekerja keras memeras keringat agar bisa memberikan uang ratusan ribu rupiah.

 

Kejam, sungguh kejam, anak apa aku ? Sudah dilahirkan, dididik, diberi uang dan kini setelah beranjak dewasa secara perlahan ku bunuh orang tuaku dengan memaksa mereka mengeluarkan tenaga. Aku rela belanja pakaian ratusan ribu demi sebuah gengsi, aku rela jalan-jalan ke tempat hiburan, aku rela mentraktir pacar makan KFC.